Category «POLITIK»

Memprediksi Poros Politik Demokrat-Gerindra

Memprediksi Poros Politik Demokrat-Gerindra

Pada hari Kamis (27/7) lalu, Ketua Umum Partai Gerindra, Probowo Subianto mendatangi kediaman dari Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat di Cikeas. Pertemuan mereka tentu saja menjadi bahan perbincangan publik dan sorotan terutama bagi pengamat politik di Indonesia. Hal ini mengingat keduanya adalah pemimpin dari partai yang sekarang ini berada di luar poros pendukung pemerintahan Jokowi-JK.

Bukan Soal Koalisi

SBY sendiri membantah bahwa pertemuan kedua belah pihak tersebut membahas soal koalisi untuk masa depan. Ia menambahkan, “Kami memilih untuk tidak perlulah harus membentuk yang namanya koalisi. Yang terpenting adalah kami bisa meningkatkan komunikasi dan juga kerjasama.” Namun banyak sekali pihak yang bereaksi atas pertemuan mereka berdua. Banyak pengamat politik yang menilai pertemuan itu adalah langkah awal dari menjalin hubungan yang lebih erat lagi ke depannya guna menghadapi pemilihan umum, legislatif dan presiden pada tahun 2019 mendatang.

Ganjalan Koalisi

Bagi pengamat politik seperti Direktur dari Saiful Muzani Research and Consulting (SMRC), Sirajuddin Abbas, SBY dinilai tidak akan mendukung Prabowo menjadi capres pada tahun 2019 mendatang. Kecil kemungkinannya, ia menambahkan. Menurut dirinya, SBY mempunyai riwayat hubungan yang kurang baik dengan Prabowo. Abbas melanjutkan bahwasanya SBY termasuk orang yang mengusulkan agar Prabowo dipecat dari militer karena Prabowo diduga terlibat dalam penembakan mahasiswa pada tragedy tahun 1999 silam.

Hal itu lah yang dinilai dirinya menjadi ganjalan yang besar bagi terbentuknya koalisi antar kedua partai tersebut, Gerindra dan Demokrat. “Artinya, ini dianggap punya masalah etik. Dan kalau mau mengusung Prabowo, ada problem etik di dalamnya dan ada problem sejarah,” ungkap Abbas lebih lanjut dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Minggu (30/7) kemarin.

Sedangkan pengamat politik dari sumber lain, yakni dari UIN Syarif Hidayatulla Jakarta, Adi Prayitno, tidaklah sependapat dengan apa yang dikatakan atau diprediksi oleh Abbas. Menurut dirinya, riwayat masa lalu yang buruk tidaklah terlalu mempengaruhi kepentingan politik dewa poker yang ada di masa kini. Terutama jika target mereka adalah kemenangan dalam pemilu legislatif dan juga Pilpres 2019.

Adi menambahkan bahwasanya ada dua faktor yang membuat poros Gerindra dan Demokrat dapat tercipta. Pertama, meskipun terbukti mempunyai riwayat buruk, Prabowo ataupun Gerindra bakal tetap mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat luas pada pemilu legislatif dan juga Pilpres 2014 lalu. ia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia terbukti sudah melupakan riwayat buruk yang dimiliki Prabowo sehingga SBY sendiri tidak bisa menafikkan bahwa Prabowo memanglah figure yang menjanjikan guna meraup banyak suara dalam pemilu 2019. “Pada tahun 2014 lalu, banyak aktivis, LSM dan mahasiswa yang mendukung Prabowo,” ungkap Adi.

Alasan yang kedua adalah menyangkut ambang batas pencalonan Presiden ataupun presidential threshold yang baru-baru ini diketuk palu oleh DPR. Dalam presidential threshold tersebut, presiden bisa dicalonkan apabila partai pengusung meraih 20% suara dalam pemilu legislatif. Ambang batas ini lah yang menjadi berat karena pemilu legislatif dan juga pilpres bakal diselenggarakan serentak ataupun bersamaan pada tahun 2019. Sehingga, partai-partai politik Cuma bisa mengandalkan hasil raihan suara di pemilu legislatif 2014 yang lalu.

Itulah dua prediksi dari dua pengamat politik yang berbeda. Tentang apakah SBY-Prabowo akan berkoalisi dalam pilpres 2019 atau tidak, sepertinya publik sudah tidak sabar dengan hasil keputusan keduanya. Meskipun sudah menyangkal bahwa tidak ada koalisi, namun siapa yang berani menjamin hal itu?